Rabu, 20 Mei 2015

PANGKALAN BERANDAN

           Ini adalah sebuah desa kecil yang ramai penduduk, sebut saya Pangkalan Berandan. Ini aalah tmpat dimana saya dilahirkan kira-kira 19 tahun yang lalu hingga saat ini. Pangkalan Brandan adalah ibukota Kecamatan Babalan, Kecamatan Sei. Lepan, Kecamatan Brandan Barat, dan Kecamatan Brandan Timur, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Terletak di pesisir pantai timur pulau Sumatera, sekitar 60 km di sebelah utara Kota Binjai. Kelurahan ini terletak strategis karena dilalui oleh Jalan Raya Lintas Sumatera dan merupakan pintu gerbang provinsi Sumatera Utara relatif dari Aceh.      
 
         Pangkalan Brandan terkenal karena merupakan salah satu ladang minyak tertua di Indonesia dan telah dieksplorasi sejak zaman Hindia Belanda. 
 Kronologi sejarah 
1883 - Konsesi pertama eksploitasi minyak bumi diberikan oleh Sultan Langkat kepada Aeilko J. Zijlker, tepatnya di daerah Telagasaid. 
 1885 - Produksi pertama minyak bumi dari perut bumi Pangkalan Brandan. 
1892 - Kilang minyak Royal Dutch yang menjalankan usaha eksplotasi mulai melakukan produksi massal. 
 1947 - Tanggal 13 Agustus, peristiwa Brandan Bumi Hangus sebagai salah satu strategi pejuang sebagai bentuk perlawanan terhadap agresi Belanda. Sekarang ini, ada 5 Unit Operasi Daerah Produksi di bawah Pertamina, Unit I yang membawahi daerah Aceh dan Sumatera Utara berkantor pusat di Pangkalan Brandan. 
 13 Agustus 1947, Brandan Menjadi Lautan Api
 Tambang Minyak Pangkalanbrandan yang merupakan cikal bakal dunia perminyakan di tanah air, pernah dibumihanguskan . Kisahnya diawali dengan pasukan Sekutu bersama Belanda yang dikenal dengan sebutan Agresi Militer 21 Juli 1947 ke wilayah Sumatera Utara. Pasukan Sekutu /Belanda ke-esokan harinya langsung melancarkan serangan menuju arah Pangkalanbrandan, serangan dimulai dari Tandemhilir selanjutnya mengarah menuju Stabat. Ketika itu para pejuang yang tergabung dalam Komando Langkat Area bertekad, Dari Pada Hidup Dibawah Telapak Kaki Penjajah, Lebih Baik Mati Berkalang Tanah demikian pula keberadaan Tambang Minyak Brandan, Dari Pada Dikuasai Penjajah , Lebih Baik Musnah. Pembakaran tambang minyak tersebut, oleh para pejuang kita terdahulu, harus dimaknai sebagai sebuah simbol perlawanan agar keberadaannya tidak menjadi milik penjajah yang berkehendak menguasai tambang minyak tersebut, begitu kata Bupati Langkat H. Ngogesa Sitepu mengawali sambutannya pada peringatan Brandan Bumi Hangus yang berlangsung di halaman Masjid Bithrul Pangkalan Brandan, Sabtu (13/8) . Dalam kesempatan itu bupati menghimbau generasi muda untuk tidak terpaku kepada kebesaran sejarah masa lalu, harus kita sadari, perjuangan masa depan masih panjang. Karena itu segenap komponen masyarakat selaras dengan motto Bersatu Sekata Berpadu Berjaya untuk bersama-sama berkarya dan berkreasi guna kemajuan daerah ini, kata bupati seraya menyampaikan penghargaan dan bingkisan kepada sejumlah ahli waris tokoh pejuang di daerah ini. Ketua DPRD Langkat H. Rudi Hartono Bangun menyebutkan bahwa semangat Brandan Bumi Hangus harus tetap digelorakan, sebab itulah kekhasan daerah kita. Semangat pantang menyerah para pejuang hendaknya bisa kita tauladani dalam menjalani kehidupan untuk meraih cita-cita dan tujuan bersama, demi eksistensi harga diri bangsa dan kemajuan daerah. Peringatan Brandan Bumi Hangus tahun ini juga diisi dengan tausyiah oleh Al-Ustadz H. Azhari Rasyid yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Sebelumnya ditampilkan fragmen epos perjuangan Brandan Bumi Hangus oleh generasi muda setempat. Menurut cacatan dari Buku Sejarah Brandan Bumi Hangus yang disusun tim Pemkab Langkat, Pasukan sekutu yang dikenal dengan nama Komando Batalion 4-2, mengerahkan pasukan infantri didukung satu peleton Carrier, Panser serta satu Detasemen binaan Poh An Tui. Setelah berhasil melumpuhkan pasukan pejuang di Stabat, 5 Agustus 1947 pasukan sekutu berhasil melintasi Tanjungpura dan tertahan di Gebang. Sementara itu di Pangkalanbrandan,terjadi gejolak dan kecemasan karena mengetahui sasaran pasukan sekutu berupaya merebut Tambang Minyak tersebut. Karenanya Panglima Devisi X TRI yang berkedudukan di Banda Aceh memerintahkan agar tambang minyak itu dmusnahkan. 8 Agustus 1947 , Komando Sektor Barat/ Utara (KSBO) mendapat kabar, pasukan Belanda sedang mempersiapkan serangan besar-besaran, guna merebut tambang minyak, bahkan Radio Hilversum Belanda di Jakarta telah menyiarkan berita propoganda yang menyatakan Pangkalanbrandan telah dikuasai sekutu. 11 Agustus 947, Mayor Nazaruddin selaku Komandan Batalion Pengawal Kereta Api dan Tambang Minyak (TPKA & TM) dan Plaastslijk Militer Comandant (PMC) bersama satu Kompi dari Batalion pimpinan Letnan Ahyar dan laskar rakyat gabungan pimpinan Ahib Lubis, mengeluarkan maklumat yang ditujukan kepada seluruh penduduk tanpa kecuali, untuk meninggalkan Kota Pangkalanbrandan dan sekitarnya selambat-lambatnya 12 Agustus 1947. Pada hari yang sama jembatan Securai diledakkan, guna menghambat lajunya pasukan sekutu. Sementara PMC Pangkalanbrandan juga mempersiapkan badan untuk mengurusi pengungsian yang dipimpin Patih Sutan Naposo Parlindungan. Pembumihangusan tambang minyak Pangkalanbrandan diawali dengan meledakkan tanki-tanki besar, fondasi penyulingan dan gedung gedung perusahaan tambang minyak, sekira pukul. 03:00 dinihari, 13 Agustus 1947, jadilan Brandan Lautan Api. 
INI LAH DESAKU, DESA YANG KU CINTA, PENUH SEJARAH YANG MEGAH

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Kita harus bangga akan tanah kelahiran kita.

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar